“Katakanlah, ‘Sesungguhnya, kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. Al-Jumu’ah : 08 )
Kematian itu dekat. Hal itu baru kusadari ketika dia menghampiri orang yang paling kusayangi. Ketika dia merenggut dan merampas satu-satunya pria yang ada dalam keluarga kecil kami. Tepatnya, dua puluh satu November pukul 03.15 WIB, malaikat pencabut nyawa berkunjung ke rumah kami. Ya, tanggal itu dan waktu itu tak akan pernah terlupakan olehku. Dini hari, ibuku berlari tergesa-gesa ke kamarku dan kakakku. Aku terkejut, karena kulihat air mata keluar dari matanya dan dia terlihat begitu panik. ‘’De, papa… Kayaknya papa kambuh’’, katanya. Ya, ayahku memang diketahui mengidap penyempitan pembuluh darah di otak (kejang-kejang), semacam epilepsi hanya saja tak mengeluarkan buih dari mulutnya. Tapi, penyakit itu sudah 10 tahun lamanya tak terdeteksi lagi. Kami langsung berlari menuju kamar utama. Aku liat ayahku mengalami kejang-kejang, hanya saja kali ini lain. Wajahnya pucat membiru, mulutnya terbuka (biasanya saat kambuh mulutnya tertutup karena ayahku berusaha menahan rasa sakitnya). Aku tahu betul ini bukan kejang karena penyakitnya karena aku cukup terbiasa melihat kambuhnya penyakit ayahku sedari kecil. Saat itu matanya melihat kami. Lalu, saat melihat kami bertiga berkumpul, terdengar hembusan napas yang panjang dari ayahku. Kami masih berpikir kalau itu bukan awal keberangkatannya menuju negeri abadi karena biasanya setelah kambuh, ayahku akan berhenti bernapas selama beberapa detik, tapi itu biasa dan akan segera kembali mengambil napas panjang seakan hidup kembali. Namun, kali ini ia tak kunjung mengambil napas.
Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya (QS.50:19)
Aku terus membangunkannya, memohon supaya ia kembali bernapas. Mulutnya perlahan-lahan menutup, aku berfikir ia telah kembali, tapi ritme napasnya tetap tidak ada. Dadanya tidak naik turun layaknya orang bernapas. Detak jantungnya pun tak terdengar lagi. Ketakutan mulai menghampiri kami. Logikaku mengatakan papa telah pergi, tapi hati dan perasaanku tak mau menuruti. Aku tetap yakin ia masih hidup. Aku keluar meminta bantuan tetangga dan mereka berusaha mencarikan dokter. Setelah meminta pertolongan, aku kembali ke sisi ayahku. Wajahnya yang tadinya membiru, kini mulai pudar dan tubuhnya mulai dingin. Matanya mulai terpejam. Konyolnya, aku menyelimuti ayahku dan memegangi tangannya, seakan tak ingin membiarkannya kedinginan. Padahal logikaku yakin bahwa ia telah tiada, tetangga-tetangga pun berusaha meyakinkan kami bahwa ia telah kembali ke sisi-NYA.
Dokter (kebetulan ayah dari temanku) yang datang ke rumah juga mengatakan hal yang sama. Saat mendengar diagnosa dokter seakan petir menyambar kami, merusak akal pikiranku. Ibuku menangis tak percaya, kakakku menunduk lesu dan diam. Aku… jangan tanyakan besarnya kesedihanku saat itu. Kupeluk jasad yang terbujur kaku itu dan menangis di sampingnya. Maklum, aku lumayan dekat dengan papa dibandingkan kakakku. Kadang sesuatu yang belum ia ceritakan pada mama, ia beritahukan aku terlebih dahulu. Password laptop dan komputer di kantornya sebagai bukti kedekatanku. Semuanya menggunakan namaku yang baru aku ketahui setelah rekan kerja papa yang menceritakan. Semua orang begitu terkejut mendengar kepergian ayahku. Semua sanak keluarga datang berkumpul. Bayangkan, omku yang sedang di Batam, Jambi, bahkan bunda (nenekku) yang sedang berlibur di Padang, kota kelahiran ayahku, langsung meluncur ke Jakarta.
Sebelum ayahku dibawa dengan keranda menuju mesjid untuk disholatkan, sepupuku berkata, “Mba, liat deh pakde. Itu senyum kan? Pakde senyum kayaknya deh’’. Ya mungkin itu hikmahnya, keluargaku jadi berkumpul dengan formasi lengkap sehingga ayahku tersenyum bahagia. Semoga saja begitu. Hanya satu kecupan dariku di keningnya sebagai tanda aku ikhlas melepaskan ia untuk menemui ILLAHI RABBI. Toh ini cuma masalah waktu, aku pun akan menyusulnya jika tiba saatnya.
“Semua kejadian pasti berhikmah. Kejadian buruk belum tentu mendatangkan hal yang buruk pula’’.
Ada satu kalimat yang selalu terngiang-ngiang dari imam yang memimpin shalat jenazah ayahku, namun aku ragukan kebenarannya. “Saya salut dengan keluarga almarhum karena begitu tabah melepas kepergiannya’’, katanya. Ingin rasanya aku langsung membalas, “Bukannya tabah pak, tapi kami memang terbiasa menangis tanpa suara.’’ Namun, aku urungkan. Masa’ iya saut-sautan dalam masjid ??? Ga mungkin kan? ‘TABAH’ dan ‘IKLHLAS’? Aku tak yakin ikhlas dan tabah benar-benar menghinggapi ku saat itu.
Sekarang, setiap kali teman-temanku becerita tentang ayahnya, aku hanya bisa tersenyum dan menceritakan kenangan yang aku punya selama 17 tahun lalu. Ya, Alhamdulillah Allah mengizinkan aku memilikinya di dunia selama itu. Senyumku memang berhasil membuat orang percaya bahwa aku adalah sosok yang tegar. Tapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Wong aku saja bingung mendefinisikan perasaanku.
Semuanya bercampur menjadi satu. Rasa penyesalan karena belum menjadi anak yang berbakti dan bisa dibanggakan. Rasa marah karena dia tidak menepati janjinya untuk pergi ke rumah Allah dan kota kelahiran Rasulullah bersama-sama. Maklum saja, kami memang belum sempat pergi ke sana dengan formasi lengkap. Rasa rindu turut aku rasakan karena lama tak berjumpa. Tapi diantara semua rasa itu, terselip kebahagiaan karena Allah mengabulkan doaku, “Mengambilnya tanpa rasa sakit berkepanjangan dan berada disampingnya hingga akhir hayat’’. Proses itu memang terjadi begitu cepat dan aku tidak bisa mencegah ketetapan Allah tersebut. Tak peduli seberapapun besarnya rasa sayangku, ternyata Allah lebih menyayanginya.
Hampir satu setengah tahun lamanya dia meninggalkan dunia yang fana ini. Aku tak tahu apakah dia sudah berhasil menjawab pertanyaan malaikat munkar dan nakir dengan baii. Aku tak tahu gelap dan dinginnya di bawah sana. Aku hanya tahu bahwa aku harus melanjutkan hidupku. Life must go on, right? Ya, dia memang telah pergi dan serta merta membawa sekeping hatiku, tapi bukan berarti aku tak bisa hidup. Toh aku masih punya kepingan-kepingan yang lain 💔
Teman, saat kau sadari dalamnya cintamu untuk orang yang kau sayangi, kau dapati mereka telah pergi.
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (TQS. Ar-Rahmaan: 26-27)
Pesan :
‘’Beruntunglah kalian yang masih mempunya orangtua lengkap. Sayangilah dia sehingga tidak ada rasa penyesalan diakhir. Kalau pun rasa penyesalan itu ada, jangan biarkan syaithan membuatmu berlarut-larut di dalamnya sehingga engkau menjadi orang yang kufur akan nikmat Allah SWT. Ciumlah mereka selagi mampu, tak perlu malu, sebelum ciumanmu tak cukup menghangatkannya dan membuatnya kembali ke sisimu.’’ Terimakasih sebanyak-banyaknya untuk teman-teman, rekan, kerabat dan saudara yang bersedia menyolatkan jenazah ayahku hingga dikebumikan. Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian dan mengabulkan setiap doa dan pengharapanmu.
PERCAYALAH, KARENA AKU TELAH MENGALAMINYA
©Yulia Nur Ulfa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar