Nama aslinya adalah
Jundub bin Junadah Al Ghiffari, namun sering dikenal dengan Abu Dzar Al Ghiffari.
Beliau adalah lelaki yang berasal dari suku Ghifar. Bani Ghifar adalah qabilah
Arab suku badui yang tinggal di Kinanah, dusun terpencil di pegunungan yang
jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal
sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah
serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan
menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Mereka tidak ada taranya dalam soal menempuh jarak. Mereka jadi contoh perbandingan dalam melakukan perjalanan yang luar biasa. Malam yang kelam dan gelap gulita tak jadi soal bagi mereka. Dan celakalah orang yang kesasar atau jatuh ke tangan kaum Ghifar di waktu malam.
jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal
sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah
serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan
menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Mereka tidak ada taranya dalam soal menempuh jarak. Mereka jadi contoh perbandingan dalam melakukan perjalanan yang luar biasa. Malam yang kelam dan gelap gulita tak jadi soal bagi mereka. Dan celakalah orang yang kesasar atau jatuh ke tangan kaum Ghifar di waktu malam.
Abu Dzar Al Ghiffari termasuk seorang radikal dan
revolusioner. Telah menjadi watak dan tabiatnya menentang kebatilan di mana pun
ia berada. Dan kini kebatilan itu nampak di hadapannya, berhala-berhala yang
disembah oleh para pemujanya—orang-orang yang merendahkan kepala dan akal
mereka. Ia tidak mau menyembah berhala seperti orang lain pada masa itu.
Sesekali ia mengutip pajak dari pedagang yang lewat ke daerahnya, tetapi ia
bagikan harta rampasan itu kepada orang miskin.
Suatu hari datang kabar dari Mekkah Al Mukaromah bahwa
ada orang yang mendapatkan wahyu dari langit. Disuruhnya adikknya, Unais Al
Ghiffari (seorang penyair yang sangat piawai menggubah syair-syair Arab) untuk
mencari kebenarannya. Setelah diyakini kebenarannya, berangkatlah ia menuju
Mekkah berbekal hanya dengan air zamzam. Dari mulut ke mulut ia mengetahui
keberadaan Rasulullah SAW. Diantar Ali bin Abi Thalib, ia menemui Rasulullah. “Assalamu’alaykum,
ya Rasul Allah” adalah kalimat pertama yang keluar dari bibirnya. Ia tercatat
sebagai orang pertama yang mengucapkan salam kepada Nabi dengan salam Islam. Ia
masuk dan berbaiat di depan Rasulullah untuk berkata benar, walaupun pahit.
Tekadnya yang kuat mengantarkannya pada gerbang ke Islaman saat kebenaran itu
datang. Semangatnya yang tak kenal menyerah patut untuk dicontoh. Abu Dzar juga
berhasil mempengaruhi seluruh kaumnya untuk berbaiat di depan Rasulullah.
Abu Dzar Al Ghiffari pindah ke Madinah dan hidup
sederhana serta mencurahkan seluruh hidupnya untuk mencintai pemimpinnya, Rasulullah
SAW, sehingga Rasulullah memujinya, “Tidak ada orang di kolong langit dan di
muka bumi ini yang ucapannya lebih jujur daripada Abu Dzar”. Abu Dzar memang
selalu menepati janjinya pada Rasulullah untuk berkata benar, walaupun pahit.
Hal ini terbukti ketika ia selalu mengkritik kepemerintahan Khalifah Utsman bin
Affan yang mengistimewakan keluarganya. Ia mengkritik khalifah karena
memberikan uang dalam jumlah besar kepada Marwan bin Hakam, Harits bin Hakam,
dan Zaid bin Tsabit. Karena terus mendapat kritikan dari Abu Dzar, Utsman bin
Affan pun gerah dan memerintahkan Abu Dzar untuk pindah ke Damaskus, ibukota
Syiria. Di Damaskus pun Abu Dzar tidak henti mengkritik Muawiyah bin Abu Sufyan
selaku Gubernur Damaskus karena membangun istana al-Khadra’ (Istana Hijau) dan
hidup bermewah-mewahan dari harta kaum muslim. Karena selalu mengkritik
kepemerintahan khalifah yang tidak mau hidup sederhana, Utsman bin Affan
membuang Abu Dzar ke Rabadzah, sebuah dusun di tengah padang pasir yanga sepi
80 km di luar kota Madinah. Di sana Abu Dzar tinggal bersama istrinya dan
meninggal dalam keadaan sendiri seperti yang pernah dikatakan Rasulullah pada
Abu Dzar ketika ia terlambat datang pada perang Tabuk karena kendaraan Abu Dzar
mati.
“Hai Abu Dzar!
Engkau datang sendirian dan engkau akan mati sendirian. Nanti pada hari kiamat
engkau akan dibangkitkan sendirian juga”.
Kesimpulan:
Keberaniannya untuk selalu mengatakan kebenaran walaupun
pahit, walaupun harus dikucilkan patut dicontoh terutama untuk para aktivis
dakwah yang selalu menyerukan amar ma’ruf nahi mungkar. Semangat dan tekadnya
mendatangi Rasulullah saat mengetahui agama yang benar, yaitu Islam telah
datang juga harus diacungi jempol. Kesetiaan untuk mengabdikan hidup pada
Rasulullah dan hidup sederhana menjadi penegur bagi kita (terutama saya) yang
masih terlena dengan kehidupan dunia dan kadang menomor duakan sunnah-sunnah
Rasulullah. Astaghfirullah…. Semoga kita bisa berbenah diri dan menjadi pribadi
yang kian baik :)
Ini idolaku selain Rasulullah, siapa idolamu??? ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar