Jumat, 29 Juni 2012

IDOLAKU ABU DZAR AL-GHIFFARI TOKOH GERAKAN HIDUP SEDERHANA


Nama aslinya adalah Jundub bin Junadah Al Ghiffari, namun sering dikenal dengan Abu Dzar Al Ghiffari. Beliau adalah lelaki yang berasal dari suku Ghifar. Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di Kinanah, dusun terpencil di pegunungan yang
jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal
sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah
serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan
menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Mereka tidak ada taranya dalam soal menempuh jarak. Mereka jadi contoh perbandingan dalam melakukan perjalanan yang luar biasa. Malam yang kelam dan gelap gulita tak jadi soal bagi mereka. Dan celakalah orang yang kesasar atau jatuh ke tangan kaum Ghifar di waktu malam.
            Abu Dzar Al Ghiffari termasuk seorang radikal dan revolusioner. Telah menjadi watak dan tabiatnya menentang kebatilan di mana pun ia berada. Dan kini kebatilan itu nampak di hadapannya, berhala-berhala yang disembah oleh para pemujanya—orang-orang yang merendahkan kepala dan akal mereka. Ia tidak mau menyembah berhala seperti orang lain pada masa itu. Sesekali ia mengutip pajak dari pedagang yang lewat ke daerahnya, tetapi ia bagikan harta rampasan itu kepada orang miskin.
            Suatu hari datang kabar dari Mekkah Al Mukaromah bahwa ada orang yang mendapatkan wahyu dari langit. Disuruhnya adikknya, Unais Al Ghiffari (seorang penyair yang sangat piawai menggubah syair-syair Arab) untuk mencari kebenarannya. Setelah diyakini kebenarannya, berangkatlah ia menuju Mekkah berbekal hanya dengan air zamzam. Dari mulut ke mulut ia mengetahui keberadaan Rasulullah SAW. Diantar Ali bin Abi Thalib, ia menemui Rasulullah. “Assalamu’alaykum, ya Rasul Allah” adalah kalimat pertama yang keluar dari bibirnya. Ia tercatat sebagai orang pertama yang mengucapkan salam kepada Nabi dengan salam Islam. Ia masuk dan berbaiat di depan Rasulullah untuk berkata benar, walaupun pahit. Tekadnya yang kuat mengantarkannya pada gerbang ke Islaman saat kebenaran itu datang. Semangatnya yang tak kenal menyerah patut untuk dicontoh. Abu Dzar juga berhasil mempengaruhi seluruh kaumnya untuk berbaiat di depan Rasulullah.
            Abu Dzar Al Ghiffari pindah ke Madinah dan hidup sederhana serta mencurahkan seluruh hidupnya untuk mencintai pemimpinnya, Rasulullah SAW, sehingga Rasulullah memujinya, “Tidak ada orang di kolong langit dan di muka bumi ini yang ucapannya lebih jujur daripada Abu Dzar”. Abu Dzar memang selalu menepati janjinya pada Rasulullah untuk berkata benar, walaupun pahit. Hal ini terbukti ketika ia selalu mengkritik kepemerintahan Khalifah Utsman bin Affan yang mengistimewakan keluarganya. Ia mengkritik khalifah karena memberikan uang dalam jumlah besar kepada Marwan bin Hakam, Harits bin Hakam, dan Zaid bin Tsabit. Karena terus mendapat kritikan dari Abu Dzar, Utsman bin Affan pun gerah dan memerintahkan Abu Dzar untuk pindah ke Damaskus, ibukota Syiria. Di Damaskus pun Abu Dzar tidak henti mengkritik Muawiyah bin Abu Sufyan selaku Gubernur Damaskus karena membangun istana al-Khadra’ (Istana Hijau) dan hidup bermewah-mewahan dari harta kaum muslim. Karena selalu mengkritik kepemerintahan khalifah yang tidak mau hidup sederhana, Utsman bin Affan membuang Abu Dzar ke Rabadzah, sebuah dusun di tengah padang pasir yanga sepi 80 km di luar kota Madinah. Di sana Abu Dzar tinggal bersama istrinya dan meninggal dalam keadaan sendiri seperti yang pernah dikatakan Rasulullah pada Abu Dzar ketika ia terlambat datang pada perang Tabuk karena kendaraan Abu Dzar mati.
            Hai Abu Dzar! Engkau datang sendirian dan engkau akan mati sendirian. Nanti pada hari kiamat engkau akan dibangkitkan sendirian juga”.

Kesimpulan:
            Keberaniannya untuk selalu mengatakan kebenaran walaupun pahit, walaupun harus dikucilkan patut dicontoh terutama untuk para aktivis dakwah yang selalu menyerukan amar ma’ruf nahi mungkar. Semangat dan tekadnya mendatangi Rasulullah saat mengetahui agama yang benar, yaitu Islam telah datang juga harus diacungi jempol. Kesetiaan untuk mengabdikan hidup pada Rasulullah dan hidup sederhana menjadi penegur bagi kita (terutama saya) yang masih terlena dengan kehidupan dunia dan kadang menomor duakan sunnah-sunnah Rasulullah. Astaghfirullah…. Semoga kita bisa berbenah diri dan menjadi pribadi yang kian baik :)

Ini idolaku selain Rasulullah, siapa idolamu??? ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar