Saat itu langit mulai
kelam, matahari beranjak pergi tuk kembali ke peraduannya. Ah, sudah sore
rupanya. Aku tak ingat pastinya jam berapa saat itu, yang aku tahu birunya
langit belum tergantikan oleh warna jingga keemasan. Aku yang tengah menonton
tv sendirian di ruang keluarga dikejutkan dengan kedatangan lelaki tak dikenal.
Wajah lelaki itu sungguh asing bagiku. Dia membuka pagar rumahku tanpa izin
dariku dan memasuki rumah tanpa salam. Aku benar-benar terkejut karena kulihat
dia sudah berada tepat di belakangku.
“Kamu siapa???” tanyaku. Tapi dia hanya diam, tak ingin menjawab pertanyaanku. Aku berteriak, “Mamaaa…!!! Ada orang asing masuk ke rumah !! Maa…“. Aku benar-benar panik saat itu, tak tau harus berbuat apa untuk menghadapi lelaki yang sudah berdiri di depanku. Aku sungguh tak siap dengan kemungkinan yang akan terjadi kemudian. Seakan tersihir olehnya, akal ku buntu, tubuhku mematung. Aku hanya bisa berteriak meminta pertolongan. Ya, hanya itu cara yang bisa kulakukan.
Mama yang mendengar suaraku, keluar dari kamarnya. “Astaghfirullah, ini siapa dek? Kenapa bisa kamu biarin dia masuk? “ tanyanya panik. Mama pun merasakan keterkejutan yang serupa denganku. “Pasti kamu lupa kunci pintunya”, tambahnya dengan wajah panik.
“Kamu siapa???” tanyaku. Tapi dia hanya diam, tak ingin menjawab pertanyaanku. Aku berteriak, “Mamaaa…!!! Ada orang asing masuk ke rumah !! Maa…“. Aku benar-benar panik saat itu, tak tau harus berbuat apa untuk menghadapi lelaki yang sudah berdiri di depanku. Aku sungguh tak siap dengan kemungkinan yang akan terjadi kemudian. Seakan tersihir olehnya, akal ku buntu, tubuhku mematung. Aku hanya bisa berteriak meminta pertolongan. Ya, hanya itu cara yang bisa kulakukan.
Mama yang mendengar suaraku, keluar dari kamarnya. “Astaghfirullah, ini siapa dek? Kenapa bisa kamu biarin dia masuk? “ tanyanya panik. Mama pun merasakan keterkejutan yang serupa denganku. “Pasti kamu lupa kunci pintunya”, tambahnya dengan wajah panik.
Ya, aku akui itu memang kesalahanku yang lupa membuat
pintu tetap terkunci. Astaghfirullahal ‘adzhiim. Aku sangat menyesali
keteledoranku yang berujung seperti ini. Setelah kemunculan mama, aku seperti
terlepas dari sihir, tak lagi mematung. “Kita usir dia!” seru mama. Aku pun
langsung mendorong keluar lelaki tanpa identitas tersebut. Boro-boro
identitasnya, bahkan wajahnya pun tak nampak familiar bagiku. Aku dan mama
memaksa keluar lelaki tersebut, tapi itu sangat sulit. Kekuatan kami tak
sebanding dengannya. Rasanya tak mungkin menghadapi dia yang bertubuh tegap
lagi perkasa itu. Dengan susah payah kami mengusirnya, hingga akhirnya dia
berhasil kami usir keluar. Tak cukup dengan pengusiran tersebut, aku berteriak
meminta pertolongan tetangga sekitar karena saat itu yang terlintas dalam
benakku mereka bisa membantu kami dengan menangkap lelaki asing itu. Namun
rupanya itu hanya angan-anganku. Bantuan tak kunjung datang. Suasana di sekitar
sunyi senyap. Tak ada orang yang bisa kumintai pertolongan. Kepanikanku kembali
meningkat. Apalagi kulihat lelaki itu kembali mencoba masuk ke dalam rumah.
Namun, kepanikanku mencapai batas maksimum karena kulihat pisau dalam
genggamannya. Mata pisau itu memperlihatkan kilau ketajamannya. Bak mata elang
yang hendak menerkam mangsa, begitulah pisau itu siap menghunus orang.
“ Ma, ayo masuk ke dalam, cepetan..!!!” teriakku. Aku dan
mama langsung berlari ke dalam. “Tutup pintunya !!” ujarku. Aku berharap dengan
menutup dan mengunci pintu, setidaknya kami akan aman hingga bantuan lain
datang. Mudah-mudahan tidak akan ada korban diantara kami. Namun harapanku
harus pupus, saat ku lihat dia telah berdiri di depan pintu. Padahal pintu
belum tertutup sepenuhnya apalagi terkunci. Kami berusaha mendorong pintu
sekuat-kuatnya, tapi dia melakukan hal yang sama dari arah yang berlawanan.
Alhasil, terjadilah saling mendorong pintu kala itu.
Sungguh rasanya tak mungkin melawan kekuatan yang amat
besar dari lelaki tersebut. “Masya Allah, aku udah ga kuat lagi,” kataku,
“Sulit rasanya, Ya Rabb… tolonglah hambaMu ini.” Aku merintih. Namun, ku lihat
mama tak berkata apapun. Dia terus saja mendorong pintu, walaupun peluh
membanjiri tubuh dan tangannya pun telah gemetaran. Astaghfirullah… aku malu
pada diriku sendiri. Aku hanya bisa mengeluh tak kuat. Bahkan sempat terlintas
dalam benakku bahwa Allah SWT sungguh tidak adil, karena pertolonganNya yang
dijanjikan bagi orang mukmin tak kunjung datang. Astaghfirullah. Subhaanaka inni kuntu minadz dzholiimiin.
“Karena sesungguhnya Allah adalah pelindung
orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir tiada
mempunyai pelindung”(QS. Muhammad : 11).
Saking paniknya, aku lupa bahwa kakakku juga ada di dalam
rumah. Sadar akan ketidakberdayaan kami, aku memanggil kakakku untuk ikut
membantu. Lalu kami bertiga bersama-sama mendorong pintu agar segera tertutup.
Namun lagi-lagi kami tak sehebat itu. Ini memang terasa aneh. Orang macam apa
lelaki tersebut hingga memiliki kekuatan sebegitu dahsyatnya. “Apa… sebenernya
apa yang diinginkan lelaki itu, hingga dia memaksa ingin masuk ke dalam
rumah???” tanyaku dalam hati. Keadaan ini juga diperparah saat tangan kiri
lelaki tersebut berhasil menyelinap di sela pintu yang masih terbuka dan
mencengkram tangan kanan mama. Dia memaksa mama agar berhenti. Aku semakin
takut, merasa diri ini begitu lemah dan tak berdaya. Aku tak mengerti aoa yang
diinginkan oleh lelaki asing ini. Di tengah kepanikan, kulihat ayahku sedang
berbaring di tempat tidur dan bersandar pada bantal. Aku sungguh tak tau kalau
ada papa di dalam kamarnya yang tak jauh dari tempat kejadian saling dorong
pintu. Aku berharap dengan kekuatan papa yang notabene satu-satunya pria di
keluarga, kami dapat mengalahkan lelaki asing tersebut. “Papa…!!! Ayo bantuin”
pintaku, “Pa, kita lagi dalam bahaya. Ini kan tugas papa sebagai kepala
keluarga untuk melindungi. Jangan hanya berbaring aja!” Namun, papa tak
memberikan respon sedikit pun. Padahal jelas-jelas matanya menatapku, tapi dia
seakan mematung, diam membisu. Aku benar-benar kecewa. Aku benar-benar merasa
Allah SWT sangat jahat padaku. Semua harapanku pupus, pertolonganNya tak
kunjung datang. Banyak pikiran negatif berkelebat di benakku. Aku pun menangis
sejadi-jadinya….
Dingin….
Ya, dingin yang kurasa
di pipi. Rupanya air mata menetes deras dari kedua pelupuk mataku. Saat membuka
mata dan tersadar, kulihat keadaan sekeliling tak ada yang berubah. Dan…. Apa
ini? Kudapati diriku di kamar, padahal kejadian itu ada di ruang tamu, dekat
pintu masuk. Aku langsung berlari ke luar kamar. “Alhamdulillah…. Itu cuman
mimpi”, ujarku, “Astaghfirullah… mimpi macam apa itu? Terasa sangat nyata. Apa
artinya? Semoga itu hanya bunga tidur aja”. Walaupun itu hanya sebuah mimpi,
entah kenapa setiap kejadiannya masih terekam jelas di memori otakku. Ya, aku
mengingatnya sebagai nightmare, mimpi
buruk.
Hari-hari
berjalan seperti biasa. Namaku Liyan. Aku yang merupakan siswi kelas XII
semester pertama di SMA favorit di kotaku menjalankan rutinitas sehari-hari.
Mau tahu rutinitasku? Secara garis besar sih
sekolah, les hingga malam, lalu pulang ke rumah. Umum lah buat orang yang akan menghadapi UN dan SNMPTN. Hehehe… Eitss, tapi semua itu ga cukup, harus
disertai dengan doa, seperti shalat, tilawah, shodaqoh & amalan ibadah
lainnya. Karena hanya Allah ‘azza wa
jalla yang berkuasa atas segala sesuatu, jadi berdoa kepada-Nya adalah cara
yang paling jitu kan? Balik ke soal mimpi itu, ingin rasanya aku cerita ke
orang lain entang mimpi menyeramkan tersebut. Namun, aku urungkan ketika
kuingat salah satu hadist yang mengatakan bahwa mimpi buruk sebaiknya tak usah
dibicarakan.
“Dari Rasulullah
bersabda: … Mimpi itu dibagi menjadi tiga kelompok : (1) Mimpi yang baik, yaitu
kabar gembira yang datang dari Allah. (2) Mimpi yang menyedihkan, yaitu mimpi
yang datang dari syaithan. (3) Dan mimpi yang datang dari bisikan diri sendiri.
Jika salah seorang diantara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan, maka
hendaknya dia bangun dari tidur lalu
mengerjakan sholat dan hendaknya jangan dia ceritakan mimpi tersebut kepada
orang lain!....” (HR : Abu Hurairah).
Entah hanya perasaanku saja, setelah mimpi tersebut aku
sering mendapati jantungku berdegup kencang secara tiba-tiba. “Perasaan apa
ini?” tanyaku dalam hati. Rasanya sangat sakit hingga aku sulit bernapas.
Pernah aku rasakan hal tersebut saat berada di dalam mobil temanku seusai les.
Anehnya, entah kenapa saat jantungku berdegup hebat, pikiranku selalu tertuju
pada ayahku. Aku selalu mengkhawatirkannya. Maklum saja, sedari kecil aku
lumayan sering mendengar kabar kecelakaan lalu lintas ayahku yang disebabkan
penyakit penyempitan pembuluh darah di otaknya. Penyakit itu membuat ayahku
kejang-kejang secara mendadak sehingga kecelakaan lalu lintas sangat mungkin
terjadi saat dia berkendara. Alhamdulillah, begitu leganya saat aku dengar
bahwa dia baik-baik saja saat ku hubungi. Lalu, “Kenapa ini?” tanyaku dalam
hati, “Apa aku sakit?”
“Aduh, astaghfirullah…. “, kataku saat berada di mobil
temanku seusai les. Kupegangi dadaku. Tepat di jantung. Meringis kesakitan.
“Kenapa Yan? Kamu sakit? Kok meringis gitu. Mukamu juga
pucat. Yan…. Yan.. Yan…!!!” teriak temanku.
Kira-kira seminggu telah berlalu. Bendera kuning telah
menghiasi jalan menuju rumahku, karangan bunga juga sudah bertengger di depan
rumah. Akhirnya aku mengetahui apa arti mimpi tersebut. Hari itu, 21 November
2010, ayahku resmi berpulang ke rahmatullah. Aku yang dijadwalkan mengikuti try out STAN di SMA ku tak lagi ingat.
Aku terlarut dalam kesedihan dan sesak di dada. Tiba-tiba hapeku berbunyi. SMS.
Rupanya dari sahabatku, Sita.
“Yan, kmu jd ikut TO kan?” tanyanya. Namun, hanya ku
balas singkat, “Enggak ta, aku ga bisa. Ayahku hari ini pulang ke rahmatullah.
Meninggal”. Lalu disusul telepon darinya, dan kuceritakan semuanya dalam
tangisan. Dalam sekejap kabar duka itu pun tersebar ke seluruh teman-teman dari
SD hingga SMA. Aku juga heran. Mungkin inilah keajaiban teknologi. Ayahku
mendapat serangan jantung mendadak pada dini hari. Padahal tiga hari sebelum
kepergiannya, kami sempat makan bersama di salah satu restoran Jepang. Tak ada
pesan, tak ada tanda akan kepergiannya, hingga aku teringat mimpi buruk
tersebut. Lalu, aku coba mentakwilkan mimpi tersebut. Mungkin pria yang sangat
ingin masuk ke dalam rumah meski aku, mama dan kakak mencoba menahannya adalah
penggambaran malaikat izrail yang akan mencabut nyawa. Lalu, papa yang
berbaring dan bersandar di tempat tidur, yang tidak bisa melakukan apa-apa
adalah keadaannya yang tak mampu menghindari kematiann saat berada di depan
mata. Rasa kecewa dan sedih hingga menangis sejadi-jadinya adalah keadaanku
hari itu.
“Sabar ya Yan, pasti Allah mempunyai rencana yang paling
indah buat kamu dan keluargamu”, begitulah yang mereka katakan, “Semoga Allah
memberikan tempat yang baik buat ayahmu dan mempertemukan kalian di
syurga-Nya”. Aku amin-kan setiap doa mereka. Sambil menahan tangis, kuceritakan
mimpi aneh kepada sahabat dan teman karibku.
Sekarang aku bisa menerimanya meski kepergian papa yang
tiba-tiba adalah shocking therapy bagi
keluargaku. Satu hal yang sangat aku syukuri, banyak orang yang datang ke rumah
untuk takziyah. Dari memandikan,
dikenakan pakaian akhirat, didoakan, disholatkan hingga dikebumikan. Begitu
banyak kemudahan yang Allah berikan, sungguh tak mempersulit kami. Begitu
berlimpah doa untuk papa. Subhanallah. Semoga ini pertanda papa adalah orang
baik dan kami keluarga yang baik-baik. Alhamdulillah. Aku sadari bahwa tak ada
daya dan kuasa diri ini menghadapi Allah Yang Maha Perkasa. Bahkan jika keluargaku
bersatu untuk melawan iradah Nya,
tetap tak akan bisa menandingi kekuasaanNya. Ternyata aku memang tak memiliki
apapun di dunia ini, semuanya hanya fana. Hanya Allah pemilik tunggal alam
semesta beserta isinya, termasuk papa. Dia yang telah menciptakannya dan aku,
menakdirkan kami bersama sebagai ayah dan anak, maka Dia berhak mengambilnya
dan aku, suatu saat nanti. “Yaa Allah, aku telah ikhlas menerima ujian
kesabaran ini, karena ku ingin naik kelas”. Aamiin 👼
Tidak ada komentar:
Posting Komentar