Sabtu, 01 September 2012

FIRASAT INI


            Saat itu langit mulai kelam, matahari beranjak pergi tuk kembali ke peraduannya. Ah, sudah sore rupanya. Aku tak ingat pastinya jam berapa saat itu, yang aku tahu birunya langit belum tergantikan oleh warna jingga keemasan. Aku yang tengah menonton tv sendirian di ruang keluarga dikejutkan dengan kedatangan lelaki tak dikenal. Wajah lelaki itu sungguh asing bagiku. Dia membuka pagar rumahku tanpa izin dariku dan memasuki rumah tanpa salam. Aku benar-benar terkejut karena kulihat dia sudah berada tepat di belakangku.
            “Kamu siapa???” tanyaku. Tapi dia hanya diam, tak ingin menjawab pertanyaanku. Aku berteriak, “Mamaaa…!!! Ada orang asing masuk ke rumah !! Maa…“. Aku benar-benar panik saat itu, tak tau harus berbuat apa untuk menghadapi lelaki yang sudah berdiri di depanku. Aku sungguh tak siap dengan kemungkinan yang akan terjadi kemudian. Seakan tersihir olehnya, akal ku buntu, tubuhku mematung. Aku hanya bisa berteriak meminta pertolongan. Ya, hanya itu cara yang bisa kulakukan.
            Mama yang mendengar suaraku, keluar dari kamarnya. “Astaghfirullah, ini siapa dek? Kenapa bisa kamu biarin dia masuk? “ tanyanya panik. Mama pun merasakan keterkejutan yang serupa denganku. “Pasti kamu lupa kunci pintunya”, tambahnya dengan wajah panik.
            Ya, aku akui itu memang kesalahanku yang lupa membuat pintu tetap terkunci. Astaghfirullahal ‘adzhiim. Aku sangat menyesali keteledoranku yang berujung seperti ini. Setelah kemunculan mama, aku seperti terlepas dari sihir, tak lagi mematung. “Kita usir dia!” seru mama. Aku pun langsung mendorong keluar lelaki tanpa identitas tersebut. Boro-boro identitasnya, bahkan wajahnya pun tak nampak familiar bagiku. Aku dan mama memaksa keluar lelaki tersebut, tapi itu sangat sulit. Kekuatan kami tak sebanding dengannya. Rasanya tak mungkin menghadapi dia yang bertubuh tegap lagi perkasa itu. Dengan susah payah kami mengusirnya, hingga akhirnya dia berhasil kami usir keluar. Tak cukup dengan pengusiran tersebut, aku berteriak meminta pertolongan tetangga sekitar karena saat itu yang terlintas dalam benakku mereka bisa membantu kami dengan menangkap lelaki asing itu. Namun rupanya itu hanya angan-anganku. Bantuan tak kunjung datang. Suasana di sekitar sunyi senyap. Tak ada orang yang bisa kumintai pertolongan. Kepanikanku kembali meningkat. Apalagi kulihat lelaki itu kembali mencoba masuk ke dalam rumah. Namun, kepanikanku mencapai batas maksimum karena kulihat pisau dalam genggamannya. Mata pisau itu memperlihatkan kilau ketajamannya. Bak mata elang yang hendak menerkam mangsa, begitulah pisau itu siap menghunus orang.
            “ Ma, ayo masuk ke dalam, cepetan..!!!” teriakku. Aku dan mama langsung berlari ke dalam. “Tutup pintunya !!” ujarku. Aku berharap dengan menutup dan mengunci pintu, setidaknya kami akan aman hingga bantuan lain datang. Mudah-mudahan tidak akan ada korban diantara kami. Namun harapanku harus pupus, saat ku lihat dia telah berdiri di depan pintu. Padahal pintu belum tertutup sepenuhnya apalagi terkunci. Kami berusaha mendorong pintu sekuat-kuatnya, tapi dia melakukan hal yang sama dari arah yang berlawanan. Alhasil, terjadilah saling mendorong pintu kala itu.
            Sungguh rasanya tak mungkin melawan kekuatan yang amat besar dari lelaki tersebut. “Masya Allah, aku udah ga kuat lagi,” kataku, “Sulit rasanya, Ya Rabb… tolonglah hambaMu ini.” Aku merintih. Namun, ku lihat mama tak berkata apapun. Dia terus saja mendorong pintu, walaupun peluh membanjiri tubuh dan tangannya pun telah gemetaran. Astaghfirullah… aku malu pada diriku sendiri. Aku hanya bisa mengeluh tak kuat. Bahkan sempat terlintas dalam benakku bahwa Allah SWT sungguh tidak adil, karena pertolonganNya yang dijanjikan bagi orang mukmin tak kunjung datang. Astaghfirullah. Subhaanaka inni kuntu minadz dzholiimiin.
            “Karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir tiada mempunyai pelindung”(QS. Muhammad : 11).
            Saking paniknya, aku lupa bahwa kakakku juga ada di dalam rumah. Sadar akan ketidakberdayaan kami, aku memanggil kakakku untuk ikut membantu. Lalu kami bertiga bersama-sama mendorong pintu agar segera tertutup. Namun lagi-lagi kami tak sehebat itu. Ini memang terasa aneh. Orang macam apa lelaki tersebut hingga memiliki kekuatan sebegitu dahsyatnya. “Apa… sebenernya apa yang diinginkan lelaki itu, hingga dia memaksa ingin masuk ke dalam rumah???” tanyaku dalam hati. Keadaan ini juga diperparah saat tangan kiri lelaki tersebut berhasil menyelinap di sela pintu yang masih terbuka dan mencengkram tangan kanan mama. Dia memaksa mama agar berhenti. Aku semakin takut, merasa diri ini begitu lemah dan tak berdaya. Aku tak mengerti aoa yang diinginkan oleh lelaki asing ini. Di tengah kepanikan, kulihat ayahku sedang berbaring di tempat tidur dan bersandar pada bantal. Aku sungguh tak tau kalau ada papa di dalam kamarnya yang tak jauh dari tempat kejadian saling dorong pintu. Aku berharap dengan kekuatan papa yang notabene satu-satunya pria di keluarga, kami dapat mengalahkan lelaki asing tersebut. “Papa…!!! Ayo bantuin” pintaku, “Pa, kita lagi dalam bahaya. Ini kan tugas papa sebagai kepala keluarga untuk melindungi. Jangan hanya berbaring aja!” Namun, papa tak memberikan respon sedikit pun. Padahal jelas-jelas matanya menatapku, tapi dia seakan mematung, diam membisu. Aku benar-benar kecewa. Aku benar-benar merasa Allah SWT sangat jahat padaku. Semua harapanku pupus, pertolonganNya tak kunjung datang. Banyak pikiran negatif berkelebat di benakku. Aku pun menangis sejadi-jadinya….

Dingin….
Ya, dingin yang kurasa di pipi. Rupanya air mata menetes deras dari kedua pelupuk mataku. Saat membuka mata dan tersadar, kulihat keadaan sekeliling tak ada yang berubah. Dan…. Apa ini? Kudapati diriku di kamar, padahal kejadian itu ada di ruang tamu, dekat pintu masuk. Aku langsung berlari ke luar kamar. “Alhamdulillah…. Itu cuman mimpi”, ujarku, “Astaghfirullah… mimpi macam apa itu? Terasa sangat nyata. Apa artinya? Semoga itu hanya bunga tidur aja”. Walaupun itu hanya sebuah mimpi, entah kenapa setiap kejadiannya masih terekam jelas di memori otakku. Ya, aku mengingatnya sebagai nightmare, mimpi buruk.
Hari-hari berjalan seperti biasa. Namaku Liyan. Aku yang merupakan siswi kelas XII semester pertama di SMA favorit di kotaku menjalankan rutinitas sehari-hari. Mau tahu rutinitasku? Secara garis besar sih sekolah, les hingga malam, lalu pulang ke rumah. Umum lah buat orang yang akan menghadapi UN dan SNMPTN. Hehehe… Eitss, tapi semua itu ga cukup, harus disertai dengan doa, seperti shalat, tilawah, shodaqoh & amalan ibadah lainnya. Karena hanya Allah ‘azza wa jalla yang berkuasa atas segala sesuatu, jadi berdoa kepada-Nya adalah cara yang paling jitu kan? Balik ke soal mimpi itu, ingin rasanya aku cerita ke orang lain entang mimpi menyeramkan tersebut. Namun, aku urungkan ketika kuingat salah satu hadist yang mengatakan bahwa mimpi buruk sebaiknya tak usah dibicarakan.
            “Dari Rasulullah bersabda: … Mimpi itu dibagi menjadi tiga kelompok : (1) Mimpi yang baik, yaitu kabar gembira yang datang dari Allah. (2) Mimpi yang menyedihkan, yaitu mimpi yang datang dari syaithan. (3) Dan mimpi yang datang dari bisikan diri sendiri. Jika salah seorang diantara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan, maka hendaknya  dia bangun dari tidur lalu mengerjakan sholat dan hendaknya jangan dia ceritakan mimpi tersebut kepada orang lain!....” (HR : Abu Hurairah).
            Entah hanya perasaanku saja, setelah mimpi tersebut aku sering mendapati jantungku berdegup kencang secara tiba-tiba. “Perasaan apa ini?” tanyaku dalam hati. Rasanya sangat sakit hingga aku sulit bernapas. Pernah aku rasakan hal tersebut saat berada di dalam mobil temanku seusai les. Anehnya, entah kenapa saat jantungku berdegup hebat, pikiranku selalu tertuju pada ayahku. Aku selalu mengkhawatirkannya. Maklum saja, sedari kecil aku lumayan sering mendengar kabar kecelakaan lalu lintas ayahku yang disebabkan penyakit penyempitan pembuluh darah di otaknya. Penyakit itu membuat ayahku kejang-kejang secara mendadak sehingga kecelakaan lalu lintas sangat mungkin terjadi saat dia berkendara. Alhamdulillah, begitu leganya saat aku dengar bahwa dia baik-baik saja saat ku hubungi. Lalu, “Kenapa ini?” tanyaku dalam hati, “Apa aku sakit?”
            “Aduh, astaghfirullah…. “, kataku saat berada di mobil temanku seusai les. Kupegangi dadaku. Tepat di jantung. Meringis kesakitan.
            “Kenapa Yan? Kamu sakit? Kok meringis gitu. Mukamu juga pucat. Yan…. Yan.. Yan…!!!” teriak temanku.
            Kira-kira seminggu telah berlalu. Bendera kuning telah menghiasi jalan menuju rumahku, karangan bunga juga sudah bertengger di depan rumah. Akhirnya aku mengetahui apa arti mimpi tersebut. Hari itu, 21 November 2010, ayahku resmi berpulang ke rahmatullah. Aku yang dijadwalkan mengikuti try out STAN di SMA ku tak lagi ingat. Aku terlarut dalam kesedihan dan sesak di dada. Tiba-tiba hapeku berbunyi. SMS. Rupanya dari sahabatku, Sita.
            “Yan, kmu jd ikut TO kan?” tanyanya. Namun, hanya ku balas singkat, “Enggak ta, aku ga bisa. Ayahku hari ini pulang ke rahmatullah. Meninggal”. Lalu disusul telepon darinya, dan kuceritakan semuanya dalam tangisan. Dalam sekejap kabar duka itu pun tersebar ke seluruh teman-teman dari SD hingga SMA. Aku juga heran. Mungkin inilah keajaiban teknologi. Ayahku mendapat serangan jantung mendadak pada dini hari. Padahal tiga hari sebelum kepergiannya, kami sempat makan bersama di salah satu restoran Jepang. Tak ada pesan, tak ada tanda akan kepergiannya, hingga aku teringat mimpi buruk tersebut. Lalu, aku coba mentakwilkan mimpi tersebut. Mungkin pria yang sangat ingin masuk ke dalam rumah meski aku, mama dan kakak mencoba menahannya adalah penggambaran malaikat izrail yang akan mencabut nyawa. Lalu, papa yang berbaring dan bersandar di tempat tidur, yang tidak bisa melakukan apa-apa adalah keadaannya yang tak mampu menghindari kematiann saat berada di depan mata. Rasa kecewa dan sedih hingga menangis sejadi-jadinya adalah keadaanku hari itu.
            “Sabar ya Yan, pasti Allah mempunyai rencana yang paling indah buat kamu dan keluargamu”, begitulah yang mereka katakan, “Semoga Allah memberikan tempat yang baik buat ayahmu dan mempertemukan kalian di syurga-Nya”. Aku amin-kan setiap doa mereka. Sambil menahan tangis, kuceritakan mimpi aneh kepada sahabat dan teman karibku.
            Sekarang aku bisa menerimanya meski kepergian papa yang tiba-tiba adalah shocking therapy bagi keluargaku. Satu hal yang sangat aku syukuri, banyak orang yang datang ke rumah untuk takziyah. Dari memandikan, dikenakan pakaian akhirat, didoakan, disholatkan hingga dikebumikan. Begitu banyak kemudahan yang Allah berikan, sungguh tak mempersulit kami. Begitu berlimpah doa untuk papa. Subhanallah. Semoga ini pertanda papa adalah orang baik dan kami keluarga yang baik-baik. Alhamdulillah. Aku sadari bahwa tak ada daya dan kuasa diri ini menghadapi Allah Yang Maha Perkasa. Bahkan jika keluargaku bersatu untuk melawan iradah Nya, tetap tak akan bisa menandingi kekuasaanNya. Ternyata aku memang tak memiliki apapun di dunia ini, semuanya hanya fana. Hanya Allah pemilik tunggal alam semesta beserta isinya, termasuk papa. Dia yang telah menciptakannya dan aku, menakdirkan kami bersama sebagai ayah dan anak, maka Dia berhak mengambilnya dan aku, suatu saat nanti. “Yaa Allah, aku telah ikhlas menerima ujian kesabaran ini, karena ku ingin naik kelas”. Aamiin 👼

Tidak ada komentar:

Posting Komentar