Siapa
sih yang ga kenal dengan binatang yang satu ini? Berkat lagu-lagu yang
diciptakan pada zaman ini, namanya membumbung tinggi, naik daun lah istilah
gaulnya. Gak kalah keren kan sama ulet bulu yang naik daun seumur hidupnya? Hehe…
Nah, kenapa sih buaya menjadi inspirasi bagi saya selaku penulis? Mari berkenalan
dengan para BUAYA, kan kalo ga kenal maka….. KENALAN lah !!!
Buaya merupakan hewan yang telah hidup sejak zaman pra
sejarah dengan beberapa kali tahapan evolusi. Waduuhh…. Evolusi? Binatang macam
apa tuh??? Tenang, evolusi bukan spesies yang baru ditemukan kok. Evolusi itu
adalah perubahan struktur dan fungsi makhluk hidup baik fisik maupun fisiologis
yang terjadi pada suatu organisme yang terjadi dalam waktu lama, bisa ribuan
bahkan jutaan tahun. ROAMING…..!!! Ga ngerti? Okeh akan saya jelaskan dengan
bahasa yang mudah dimengerti. Intinya dia telah mengalami modifikasi atau
transformasi. Tapi STOP untuk ngebayangin transformasinya kayak power ranger ya
(-_-‘’) Sungguh sangat jauh berbeda. Okeh, lanjutkan…!!
Secara
ilmiah, buaya meliputi seluruh spesies anggota suku Crocodylidae, termasuk
buaya ikan (Tomistima schlegelii). Buaya umumnya menghuni habitat seperti
perairan tawar (sungai, danau, rawa, dll), tapi ada pula yang hidup di air
payau seperti buaya muara. Makanan utama buaya itu biasanya hewan bertulang
belakang (vertebrata) seperti ikan, reptil, dan mamalia. Loh kok reptil? Padahal
kan buaya juga reptil. Jadi reptil makan reptil dong? Sekedar informasi aja,
buaya itu kadang suka makan buaya kecil, makanya sang buaya betina suka membawa
anak-anaknya (yang tentunya buaya juga) di dalam mulutnya sebagai proteksi
gitu. Memang begitu besar ya pengorbanan seorang ibu. Jadi TERHARU :’) Selain vertebrata,
buaya juga suka moluska (hewan bertubuh
lunak) dan udang-udangan (bukan berarti udang boongan ya).
Beberapa
daerah di negara yang Bhineka Tunggal Ika
ini menyebut buaya seperti buhaya; baya atau bajul; bicokcok; bekatak, atau
buaya katak untuk menyebut buaya bertubuh kecil gemuk alias bogel; buaya julung-julung
untuk menyebut buaya ikan; buaya pandan, yakni buaya berwarna hijau; buaya
tembaga, yakni buaya berwarna kuning kecoklatan, dll. Sungguh beragam kan
Indonesia J
Nah itu sekilas perkenalan dengan buaya. So what?Tenang, bukan karena alasan itu
tulisan ini dibuat. Sekarang ini kan lagi nge-trend tuh istilah “buaya darat”.
Yups, istilah yang digunakan untuk menyebut laki2 yang sering mendua, mentiga,
dst. Tapi ada sedikit kesalahan tentang pemahaman istilah ini. Why?
Fakta
dari buaya jantan
Seekor buaya jantan
merupakan hewan yang paling setia terhadap pasangannya. Menurut animal planet yang yang pernah saya tonton, seekor buaya jantan hanya memiliki satu
pasangan saja seumur hidupnya. Keren ga tuh? Buaya jantan hanya akan kawin
dengan betina yang sama seumur hidupnya. Bahkan jika sang betina mati terlebih
dahulu, buaya jantan akan tetap menjaga janji setia sang pasangan dengan cara
tidak akan mengawini betina lain seumur hidupnya. Itulah mengapa tradisi
masyarakat betawi saat terjadinya pernikahan, sang mempelai pria akan
memberikan roti buaya kepada mempelai wanita sebagai janji sehidup semati. So sweet ga tuh binatang?
Trus kenapa ada istilah “buaya darat”? Sejarahnya berawal
dari desa Soronganyit. Pada tahun 1971, di sebuah daerah yang bernama
Soronganyit yang terletak di daerah Jember terdapat sebuah tambak buaya.
Buaya-buaya tersebut mempunyai jadwal rutin kapan di darat dan kapan di air.
Pada suatu hari pemilik tambak kehilangan seekor buaya jantan. Hal itu
menggemparkan satu desa hingga membuat penduduk ketakutan. Mereka mengurung di
rumah dan ada yang pergi ke dukun karena takut diserang buaya. Pada bulan
ketiga setelah kejadian itu, buaya tersebut ditemukan di salah satu desa
tetangga yang lingkungannya cukup kering dan tandus. Anehnya buaya tersebut
dapat bertahan hidup tanpa air selama tiga bulan dengan buaya betina yang entah
datang darimana dan tentunya bukan pasangan hidupnya yang sah. Lebih parahnya
lagi betina baru tersebut seumuran dengan anaknya sendiri. Maka sejak saat itu,
melalui mulut ke mulut jika ada lelaki yang mempunyai hubungan dengan wanita
bukan pasangan sahnya disebut lelaki BUAYA DARAT. Namun istilah tersebut tak bisa dipertanggung
jawabkan dan sangat bertentangan dengan sifat asli sang buaya yang setia.
Kasian si Mr. Buaya yang telah dicemarkan alias difitnah seperti itu. Jadi
jangan heran ya kalo ada kasus buaya makan manusia. Ya jelas aja mereka marah
karena difitnah kayak gitu. Hehehe (padahal beda kasus). Kalo ada lembaga
peradilan yang mewadahi aspirasi para buaya (ASLI), mungkin para komposer akan
dituntut secara perdata atau pidana. Wkwkwk. Jadi buat para komposer yang
menggunakan “buaya darat” untuk menggambarkan laki-laki yang tidak setia pada
lagu-lagunya harus meminta maaf kepada Mr. Buaya ya. Kalau para buaya bisa
berbicara, mungkin mereka akan berkata, “Trus salah gue terlahir sebagai buaya,
atau salah bapak-ibu gue karena melahirkan gue sebagai buaya?” Hehe. Oleh
karena itu, saya menulis ini untuk mewakili perasaan para buaya di seluruh
dunia. Hahaha….. Buaya asli tapinya ya :p
“Jadi, klo laki-laki
yang senang mendua, mentiga, dst sangat tidak pantas disebut sebagai buaya
karena bertentangan dengan sifat asli si Mr. Buaya, kira-kira binatang apa ya
yang pantas?”
Referensi:
Copyright ©yulianurulfa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar