Kamis, 12 Juli 2012

Salahkah Jika Aku Buaya


Siapa sih yang ga kenal dengan binatang yang satu ini? Berkat lagu-lagu yang diciptakan pada zaman ini, namanya membumbung tinggi, naik daun lah istilah gaulnya. Gak kalah keren kan sama ulet bulu yang naik daun seumur hidupnya? Hehe… Nah, kenapa sih buaya menjadi inspirasi bagi saya selaku penulis? Mari berkenalan dengan para BUAYA, kan kalo ga kenal maka….. KENALAN lah !!!
            Buaya merupakan hewan yang telah hidup sejak zaman pra sejarah dengan beberapa kali tahapan evolusi. Waduuhh…. Evolusi? Binatang macam apa tuh??? Tenang, evolusi bukan spesies yang baru ditemukan kok. Evolusi itu adalah perubahan struktur dan fungsi makhluk hidup baik fisik maupun fisiologis yang terjadi pada suatu organisme yang terjadi dalam waktu lama, bisa ribuan bahkan jutaan tahun. ROAMING…..!!! Ga ngerti? Okeh akan saya jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Intinya dia telah mengalami modifikasi atau transformasi. Tapi STOP untuk ngebayangin transformasinya kayak power ranger ya (-_-‘’) Sungguh sangat jauh berbeda. Okeh, lanjutkan…!!
Secara ilmiah, buaya meliputi seluruh spesies anggota suku Crocodylidae, termasuk buaya ikan (Tomistima schlegelii). Buaya umumnya menghuni habitat seperti perairan tawar (sungai, danau, rawa, dll), tapi ada pula yang hidup di air payau seperti buaya muara. Makanan utama buaya itu biasanya hewan bertulang belakang (vertebrata) seperti ikan, reptil, dan mamalia. Loh kok reptil? Padahal kan buaya juga reptil. Jadi reptil makan reptil dong? Sekedar informasi aja, buaya itu kadang suka makan buaya kecil, makanya sang buaya betina suka membawa anak-anaknya (yang tentunya buaya juga) di dalam mulutnya sebagai proteksi gitu. Memang begitu besar ya pengorbanan seorang ibu. Jadi TERHARU :’) Selain vertebrata, buaya juga suka moluska (hewan bertubuh lunak) dan udang-udangan (bukan berarti udang boongan ya).
Beberapa daerah di negara yang Bhineka Tunggal Ika ini menyebut buaya seperti buhaya; baya atau bajul; bicokcok; bekatak, atau buaya katak untuk menyebut buaya bertubuh kecil gemuk alias bogel; buaya julung-julung untuk menyebut buaya ikan; buaya pandan, yakni buaya berwarna hijau; buaya tembaga, yakni buaya berwarna kuning kecoklatan, dll. Sungguh beragam kan Indonesia J
            Nah itu sekilas perkenalan dengan buaya. So what?Tenang, bukan karena alasan itu tulisan ini dibuat. Sekarang ini kan lagi nge-trend tuh istilah “buaya darat”. Yups, istilah yang digunakan untuk menyebut laki2 yang sering mendua, mentiga, dst. Tapi ada sedikit kesalahan tentang pemahaman istilah ini. Why?
Fakta dari buaya jantan
Seekor buaya jantan merupakan hewan yang paling setia terhadap pasangannya. Menurut animal planet yang yang pernah saya tonton, seekor buaya jantan hanya memiliki satu pasangan saja seumur hidupnya. Keren ga tuh? Buaya jantan hanya akan kawin dengan betina yang sama seumur hidupnya. Bahkan jika sang betina mati terlebih dahulu, buaya jantan akan tetap menjaga janji setia sang pasangan dengan cara tidak akan mengawini betina lain seumur hidupnya. Itulah mengapa tradisi masyarakat betawi saat terjadinya pernikahan, sang mempelai pria akan memberikan roti buaya kepada mempelai wanita sebagai janji sehidup semati. So sweet ga tuh binatang?
            Trus kenapa ada istilah “buaya darat”? Sejarahnya berawal dari desa Soronganyit. Pada tahun 1971, di sebuah daerah yang bernama Soronganyit yang terletak di daerah Jember terdapat sebuah tambak buaya. Buaya-buaya tersebut mempunyai jadwal rutin kapan di darat dan kapan di air. Pada suatu hari pemilik tambak kehilangan seekor buaya jantan. Hal itu menggemparkan satu desa hingga membuat penduduk ketakutan. Mereka mengurung di rumah dan ada yang pergi ke dukun karena takut diserang buaya. Pada bulan ketiga setelah kejadian itu, buaya tersebut ditemukan di salah satu desa tetangga yang lingkungannya cukup kering dan tandus. Anehnya buaya tersebut dapat bertahan hidup tanpa air selama tiga bulan dengan buaya betina yang entah datang darimana dan tentunya bukan pasangan hidupnya yang sah. Lebih parahnya lagi betina baru tersebut seumuran dengan anaknya sendiri. Maka sejak saat itu, melalui mulut ke mulut jika ada lelaki yang mempunyai hubungan dengan wanita bukan pasangan sahnya disebut lelaki BUAYA DARAT.  Namun istilah tersebut tak bisa dipertanggung jawabkan dan sangat bertentangan dengan sifat asli sang buaya yang setia. Kasian si Mr. Buaya yang telah dicemarkan alias difitnah seperti itu. Jadi jangan heran ya kalo ada kasus buaya makan manusia. Ya jelas aja mereka marah karena difitnah kayak gitu. Hehehe (padahal beda kasus). Kalo ada lembaga peradilan yang mewadahi aspirasi para buaya (ASLI), mungkin para komposer akan dituntut secara perdata atau pidana. Wkwkwk. Jadi buat para komposer yang menggunakan “buaya darat” untuk menggambarkan laki-laki yang tidak setia pada lagu-lagunya harus meminta maaf kepada Mr. Buaya ya. Kalau para buaya bisa berbicara, mungkin mereka akan berkata, “Trus salah gue terlahir sebagai buaya, atau salah bapak-ibu gue karena melahirkan gue sebagai buaya?” Hehe. Oleh karena itu, saya menulis ini untuk mewakili perasaan para buaya di seluruh dunia. Hahaha….. Buaya asli tapinya ya :p
            Jadi, klo laki-laki yang senang mendua, mentiga, dst sangat tidak pantas disebut sebagai buaya karena bertentangan dengan sifat asli si Mr. Buaya, kira-kira binatang apa ya yang pantas?”
Referensi:

Copyright ©yulianurulfa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar